Sepuluh tahun lamanya aku tak bersua dengan Waktu. Kita berdua sepertinya belum merindukan satu sama lain. Padahal, Aku masih seperti dulu, menyukai selasar taman yang dikelilingi oleh sepetak bunga tulip. Menggores tinta pada selembar kertas putih berukuran a empat. Menuliskan tiap perjalanan yang telah kulalui.
Kata ‘sepi’, ‘seorang diri’, ‘diam’ masih mendominasi berlembar-lembar kertas yang sudah menumpuk di atas meja rumahku. Entah kata apa lagi yang bisa kutuliskan untuk menambah variasi kata baru. Rasanya ada yang kosong di dalam sini, tanpa tahu obat penawar apa yang tepat untuk menambalnya. Ada yang berbeda antara dimensiku dengan lainnya. Aku kehilangan sang Waktu.
Ya, aku merindukannya.
Apakah Waktu benar-benar melupakanku?
Kerinduan ini menghantarkanku pada keterpurukan. Bagai anak ayam yang kehilangan induknya, aku tak bisa membaca dengan jelas peta kehidupanku. Aku lebih banyak berjalan di sepertiga malam, hanya untuk berharap, barangkali Waktu akan muncul di depan sana, dekat kedai kopi favoritku.
“Harapan memang selalu ada, tapi aku lebih percaya pada takdir.”
***
Sang Waktu menemukanku pada suatu sore yang sendu, dengan senja berada di ambang langit. Siapapun bisa mendengar alunan rintik-rintik hujan itu. Entah kenapa, dia selalu menemukanku ketika hujan. Mungkin, karena ia bersahabat dengannya.
Tangan sang Waktu membelai pelan pipiku. Serasa ibuku membangunkanku di setiap pagi yang indah. Betapa terkejutnya aku ketika itu adalah sang Waktu, bukan ibu.
“bagaimana bisa…kau….” aku tak percaya dengan apa yang kulihat.
Sang Waktu tersenyum.
“kita kan teman.”
“aku tak pernah memanggilmu teman.” Ucapku ketus.
“kalau begitu panggil aku tamu.” Balas waktu. “aku ingin mendengar ceritamu.”
Untuk pertama kalinya setelah sepuluh tahun, ada yang memintaku bercerita. Ayah pernah berwasiat, “kamu pasti akan berjumpa dengan gelap dan terang. Tapi hanya waktu yang bisa menujukkanmu jalan mana yang tepat.”
Aku pikir tak ada salahnya berbagi cerita. Toh, pada akhirnya Waktu kembali hadir di sampingku.
***
Sang Waktu menemaniku hingga sepertiga malam. Senang rasanya kerinduan ini terobati. Walaupun lisan berbohong, Toh batin bisa berkata apa. Dia ternyata tak pernah meninggalkanku. Ia mengawasiku dibalik langit ketujuh, rupanya. Karena bukan dia yang menyerah akanku, tetapi aku yang pergi meninggalkannya. Dia percaya, bahwa suatu saat nanti akan tiba masanya ketika aku dan dia ditakdirkan bertemu kembali. Sampai saat itu tiba, dia senantiasa memperhatikanku. Sampai hari ini, saat dia membangunkanku dari tidur lelap.
Kita mulai saling membuka diri. Waktu menasihatiku banyak hal. Bahwa hidup itu bukan sesuatu hal yang boleh disia-siakan. Kehilangan adalah perusak keharmonisan perasaan dan emosi yang sudah Tuhan ciptakan secara sempurna untukku. Bahwa aku bisa menambal kekosongan di dalam dada ini oleh satu hal; rasa cinta.





