Dear diriku di masa Depan.

Ku tulis rerintihanku pada malam yang akan menghabisi tubuhku dengan perlahan. Ditengah malam aku akan menengadah sampai hujan turun berangsur-angsur pada pipi kemudian kuseka dengan jari-jari yang tercipta hanya untuk seorang perempuan yang pertamakali aku genggam dan kuraba halus lekuk tirus wajah ayunya dengan perasaan, selainnya hatiku tak pernah aku turutkan.
Tiga bulan berlalu, hanya kuhabiskan dalam gemerlap lampu malam club dan kesunyian didalam kamar. Sejumlah botol-botol laknat bertumpuk pada ceruk di ujung almari kecil disudut kanan kamarku dengan jendela yang selalu terbuka, hingga bau yang khas dari minumanku dan angin alam menyatu didalam kamar.
Tanpa berpikir panjang aku cari namanya di kontak hp-ku, berkapital S… terus kucari inisial itu di hp-ku, banyak sekali wanita berinisia S. Kucoba berkali-kali menelponnya, tapi tidak aktif. satu hari, dua, tiga sampai satu minggu lebih nomornya tidak dapat dihubungi, mungkin dia telah mengganti nomor hp-nya. Rinduku ini semakin menggrogoti tubuh dan semakin banyak pula botol-botol yang bertumpukan di kamarku.
kuterus menyebut namanya, ketengkupkan kepalaku diantara lutut yang aku lipat. Botol minuman ini berputar terus di genggaman, seakan tak pernah berhenti mengiringi alunan suaraku yang merintih memanggil namanya, berharap dia akan datang kembali untukku.
sampai kapan?!” rintihan yang sering ku abaikan pun kini selalu menghantui tiap waktu. cuma kamu perempuan yang dapat membuatku sakit seperti ini. Kamu dimana. Aku butuh kamu. Rintih dalam hati.
***
Ada kalanya perasaan itu bisa berubah dalam segala musim dan peristiwa dalam hidup, tetapi semua gak ada yang berubah secara tiba-tiba dan benar, semua memang butuh proses.
Aku mulai bingung dengan semua itu, bingung harus menemuinya lagi atau tidak.
Alternatif yang kedua aku mulai membuka-buka akun facebookku dan mulai mencari namanya, tidak ada aktivitas dalam seminggu ini di FB-nya, tapi berbagai note baru ada dalam catatannya, diantaranya yang paling membuatku merasa ialah,
Sedikit saja waktu itu kau rendahkan bibirmu
Hingga dapat kukecup biar terdiam, biar bisu tak bicara
Dan biar terkatup sampai aku selesai berbicara
Di antara sekian banyak pertengkaran yang pecah di antara kita, masalah jarak adalah yang paling utama. Kita seringkali berdebat mempermasalahkan waktu bertemu yang terasa begitu sempit. Kesibukanmu kuliah dan aku yang sedang bekerja di kota berbeda, tidak dapat dipungkiri menjadi masalah yang ingin ku rutuki hingga kini. sungguh tidak mudah untukku, berpisah denganmu dalam waktu yang lama. Di sini, di kota asing ini, aku sering memaki diri sendiri setiap kali aku gagal membuatmu bahagia.
Kesadaranku sebagai prialah yang membuatku ada sini. Peranku sebagai kepala keluarga nantinya, memaksaku untuk terus berjuang mengumpulkan uang untuk kamu dan calon anak kita dan aku memang bukan pria sempurna yang bisa melakukan semua hal sebaik yang kau damba. Tak jarang kuakui kealpaanku mengingat hal-hal kecil menyulut pertengkaran kita.
. . . . . .
Aku mulai mengirim pesan untuknya, aku ingin bertemu, aku ingin bicara, aku ingin meminta maaf sungguh. Dua minggu baru dapat balasan, itu pun dari pesan yang berkali-kali aku kirimkan.
Pertemuan dalam hujan. Satu jam berlalu hanya dengan diam, dia terlihat temaram, persis seperti mendung yang suram. Bagaimana aku bisa bicara kalau melihatnya seperti ini. Desahku.
Kalau aku pernah mencintai perempuan, itu hanyalah kamu, cuma satu perempuanku, yaitu kamu.



