https://youtube.com/channel/UCri9gYCxXG5bFktRslS8kcw CORET KISAH: Oktober 2018

Sabtu, 20 Oktober 2018

perempuanku


 Dear diriku di masa Depan.
Ku tulis rerintihanku pada malam yang akan menghabisi tubuhku dengan perlahan. Ditengah malam aku akan menengadah sampai hujan turun berangsur-angsur pada pipi kemudian kuseka dengan jari-jari yang tercipta hanya untuk seorang perempuan yang pertamakali aku genggam dan kuraba halus lekuk tirus wajah ayunya dengan perasaan, selainnya hatiku tak pernah aku turutkan.
Tiga bulan berlalu, hanya kuhabiskan dalam gemerlap lampu malam club dan kesunyian didalam kamar. Sejumlah botol-botol laknat bertumpuk pada ceruk di ujung almari kecil disudut kanan kamarku dengan jendela yang selalu terbuka, hingga bau yang khas dari minumanku dan angin alam menyatu didalam kamar.
Tanpa berpikir panjang aku cari namanya di kontak hp-ku, berkapital  S… terus kucari inisial itu di hp-ku, banyak sekali wanita berinisia S. Kucoba berkali-kali menelponnya, tapi tidak aktif. satu hari, dua, tiga sampai satu minggu lebih nomornya tidak dapat dihubungi, mungkin dia telah mengganti nomor hp-nya. Rinduku ini semakin menggrogoti tubuh dan semakin banyak pula botol-botol yang bertumpukan di kamarku.
  kuterus menyebut namanya, ketengkupkan kepalaku diantara lutut yang aku lipat. Botol minuman ini berputar terus di genggaman, seakan tak pernah berhenti mengiringi alunan suaraku yang merintih memanggil namanya, berharap dia akan datang kembali untukku.
  sampai kapan?!” rintihan yang sering ku abaikan pun kini selalu menghantui tiap waktu.  cuma kamu perempuan yang dapat membuatku sakit seperti ini. Kamu dimana. Aku butuh kamu. Rintih dalam hati.
***
Ada kalanya perasaan itu bisa berubah dalam segala musim dan peristiwa dalam hidup, tetapi semua gak ada yang berubah secara tiba-tiba dan benar, semua memang butuh proses.
Aku mulai bingung dengan semua itu, bingung harus menemuinya lagi atau tidak.
Alternatif yang kedua aku mulai membuka-buka akun facebookku dan mulai mencari namanya, tidak ada aktivitas dalam seminggu ini di FB-nya, tapi berbagai note baru ada dalam catatannya, diantaranya yang paling membuatku merasa ialah,
Sedikit saja waktu itu kau rendahkan bibirmu
Hingga dapat kukecup biar terdiam, biar bisu tak bicara
Dan biar terkatup sampai aku selesai berbicara
Di antara sekian banyak pertengkaran yang pecah di antara kita, masalah jarak adalah yang paling utama. Kita seringkali berdebat mempermasalahkan waktu bertemu yang terasa begitu sempit. Kesibukanmu kuliah dan aku yang sedang bekerja di kota berbeda, tidak dapat dipungkiri menjadi masalah yang ingin ku rutuki hingga kini. sungguh tidak mudah untukku, berpisah denganmu dalam waktu yang lama. Di sini, di kota asing ini, aku sering memaki diri sendiri setiap kali aku gagal membuatmu bahagia.
Kesadaranku sebagai prialah yang membuatku ada sini. Peranku sebagai kepala keluarga nantinya, memaksaku untuk terus berjuang mengumpulkan uang untuk kamu dan calon anak kita dan aku memang bukan pria sempurna yang bisa melakukan semua hal sebaik yang kau damba. Tak jarang kuakui kealpaanku mengingat hal-hal kecil menyulut pertengkaran kita.

. . . . . .
Aku mulai mengirim pesan untuknya, aku ingin bertemu, aku ingin bicara, aku ingin meminta maaf sungguh. Dua minggu baru dapat balasan, itu pun dari pesan yang berkali-kali aku kirimkan.
Pertemuan dalam hujan. Satu jam berlalu hanya dengan diam, dia terlihat temaram, persis seperti mendung yang suram. Bagaimana aku bisa bicara kalau melihatnya seperti ini. Desahku.
Kalau aku pernah mencintai perempuan, itu hanyalah kamu, cuma satu perempuanku, yaitu kamu.


Minggu, 14 Oktober 2018

SEHELAI SURAT BUAT KAMU



 Cynoz M.
Dear Diriku Di Masa Kini,
Aku adalah kamu yang hidup bertahun-tahun di masa depan. Di jaman aku hidup ini sedang ngetren mengirim pesan ke masa lalu, tapi teknologi masih agak terbatas. Jadi eksperimen ini seperti menulis surat di dalam botol dan melemparkannya ke laut. Aku hanya bisa berharap surat ini bisa sampai padamu lewat bantuan tangan-tangan orang asing. Jika kamu sedang membaca surat ini sekarang, artinya eksperimen berhasil.
Apa kabarmu? Aku bisa mengingat-ingat kejadian besar di masa lalu, tapi ada banyak sekali yang terjadi jadi aku tidak tahu persis apa yang belakangan sedang terjadi saat kamu membaca surat ini.
Mungkin kamu sedang merasa kesepian. Aku bisa ingat beberapa momen di mana aku dulu merasa ditinggalkan, diacuhkan, dianggap tiada. Ada masanya teman-teman terdekat terlihat tidak peduli kamu. Kalaupun mengaku peduli, mereka sepertinya menganggap remeh apa yang sedang kamu alami dan tidak berusaha melakukan apa-apa. Kamu pasti mengerti maksudku.
Mungkin kamu sedang merasa kecewa. Dikhianati oleh orang-orang yang kamu sayangi. Ditipu oleh janji dan harapan yang mereka ucapkan. Ditikam dari belakang di saat-saat kamu sedang membutuhkan bantuan. Tidak jarang juga dikecewakan oleh diri sendiri yang lalai dan kerap mengulangi kesalahan yang sama.  Oh betapa aku ingin memelukmu pada saat ini juga.  Aku tahu persis rasanya, karena aku pernah mengalaminya. Aku adalah kamu.
Mungkin kamu sedang merasa putus asa. Kamu lelah berputar-putar dalam badai kegagalan. Kamu ingin berteriak marah sekaligus menyerah karena sekian lama harus berjuang keras tanpa pernah melihat jalan keluar. Api yang ada di dalam hatimu sudah mulai mengecil, dan kamu mulai terbayangi pikiran untuk menyudahi segalanya, menyerah dan pergi meninggalkan semuanya.
Atau mungkin juga kamu sedang merasa bahagia sempurna, aman mencintai dan dicintai, serta bersemangat menjalani kehidupanmu. Ya aku bisa ingat ketika hari-hari indah itu terjadi. Rasanya seperti ada di atas puncak gunung tertinggi dan melihat seluruh dunia dengan rasa kagum bangga. Saat menulis ini, aku sambil membuka folder foto-foto masa lalu dan tersenyum mengenang semua kejadian itu.
Apapun yang sedang kamu rasakan, negatif, positif, baik, buruk, gelap, terang, aku mau mengingatkanmu bahwa itu adalah bagian-bagian berharga dalam hidupmu. Kamu berhak untuk merasa terpukul sedih, sama seperti kamu berhak untuk merasa tertawa bahagia. Kamu berhak untuk menyesali kesalahan, sama seperti kamu berhak untuk menikmati keberhasilan. Semua yang kamu alami itu membuat hidupmu semakin unik dan berharga. Percayalah, karena aku sudah melewati semua itu dan aku benar-benar merasa bangga diberikan kesempatan menjalaninya.
Kamu mungkin sudah tahu semua ini, tapi aku tetap ingin mengucapkannya: kamu lebih cerdas, berbakat, dan kuat daripada apapun yang kamu pikir sekarang! Kamu cuma perlu lebih berani mengekspresikannya setiap hari. Kamu harus lebih sering menyayangi dirimu, karena tidak ada yang bisa membuatmu lebih bahagia daripada kamu sendiri. Kamu sangat berharga, karena itu hargailah dirimu sendiri. Ya aku tahu itu terdengar klise seklise-klisenya, tapi masihkah kamu ingat jaman fotografi klasik dulu ketika foto harus dicetak dari klise? Jadi klise pun tetap mengandung kebenaran realita.
Jika saat ini kamu sudah memiliki seseorang yang mencintaimu sebesar kamu mencintainya, jangan sepenuhnya bergantung padanya karena kamu tetap wajib independen dan mencintai dirimu sendiri. Dan tanggungjawab mencintai diri sendiri itu jauh lebih besar lagi jika saat ini kamu memang belum menemukan sang kekasih idaman. Sebab bagaimana mungkin ada orang yang tertarik membahagiakanmu jika dia tidak melihat kamu cukup peduli untuk merawat dan membahagiakan diri sendiri?
Kamu tidak perlu menjadi orang yang sempurna, kamu hanya perlu berusaha jadi diri yang terbaik dibanding hari-hari sebelumnya. Melakukan itu jauh lebih mudah daripada memikirkannya lho.. dan aku bilang begitu karena aku tahu kamu suka terlalu banyak berpikir, lalu akhirnya malah tidak melakukan apa-apa. :))

Nah kalau kalau mau berpikir, sering-seringlah berpikir akan satu fakta ini: kamu adalah orang terfavorit dalam hidupku, karena berkat kamulah aku bisa hidup, berkarya, sukses bahagia di jamanku ini. Asal tahu saja, kamu tidak akan pernah sendirian karena aku sudah, sedang dan akan selalu bersama kamu di sepanjang waktu. Aku ingin memelukmu saat ini juga, menepuk pundakmu dan membisikkan semuanya akan baik-baik saja, tapi aku tidak bisa. Kalau kamu tidak mengerti itu, tenang saja karena suatu saat kamu akan belajar tentang fisika kuantum dan teori dimensi waktu, hehehe!
Seperti aku bilang di awal tadi, kalau kamu sedang membaca surat ini berarti eksperimenku berhasil. Aku tidak bisa mengendalikan kapan surat ini kamu terima, tapi aku punya harapan kamu membacanya di satu hari tertentu. Jadi semoga saja harapanku terkabul, karena jika tidak rasanya aneh sekali aku mengakhiri surat ini dengan kalimat ini.

Rabu, 10 Oktober 2018

SURAT RINDU BUAT AYAH


                                                    SEPUCUK SURAT RINDU BUAT AYAH

Semalam  aku berdiam diri. Menghadap kerlap-kerlip cahaya sang bintang. Gemuruh hembusan angin terdengar silih terlampaui dalam dinding-dinding yang bercengkerama ditengah kesunyian malam. Menatap cahaya yang bergelintang, malam dengan kedinginan dari luar tempat saya bersandar kelelahan.
Tarian sunyi yang membisu, melelapkanku dalam kebimbangan tengah malam dan menciptakan keraguan yang beralibi. Suara desiran nan gemuruh dari laut seberang, menyuarakan gemercik arus dari ufuk jauh mata hingga ke ufuk dekat dengan penglihatan. Seperti desisan yang mengundah pada kepuasan yang bertabiriIllahi. Melalui tarian pena akan kuciptakan kekekalan agar elok nan dirasa.

KERAS KEPALA, sekali ku mengingat kata itu selalu terbayangkan seorang pejuang berbadan gagah dan berkumis tebal. Kaki melangkah bergegas untuk pergi dari surga kecil dipelantara kampung. Alangkah beratnya jiwa yang hendak pergi, dan seakan-akan hati menjerit dengan kerasnya. Ahhh, aku tak tega meninggalkan surga kecil yang sejak lama ku huni bersama mereka, dimana aku mulai merasakan hembusan nafas untuk yang pertama kalinya.
Surga kecil yang ada dipelantara kampung itu, sungguh sangat aku rindukan dari dulu. Merindukan lantai rumah yang selalu kami pinjak dalam melangkah, merindukan suasana ramai dikala keheningan malam melanda. Merindukan bantalan empuk yang selalu menjadi tempat terlelap ketika kami semua merasakan lelahnya beraktivitas merindukan saatku  di gendong.
Untukmu ayah, Apakah kau masih ingat dengan suaramu yang menakuti teman –teman sebayaku dulu ? Apakah kau masih ingat dengan tanganmu yang selalu ku cium disetiap pagi hendak berangkat sekolah? Apa kau masih ingat jua dengan riuhnya burung yang terbang di atap surga kecil ketika mentari terbit? Semoga apa yang aku tulis dalam lembaran surat yang telah kutitipkan itu, akan menjadi penghibur dikala engkau merindukan aku dikejauhan sana.
Beliau selalu berteriak  setiap pagi ketika hendak berangkat mencari nafkah untuk bidadari  serta putra dan putri kecil dihidupnya. Pejuang perdamaian  ayahku, yang tanpa henti dan lelahnya selalu menunjukkan wajah manisnya di depan bidadari dan bocah kecilnya. Ayah orang pekerja kantoran yang memakai jaz rapi dan ber-dasi, namunbeliau bukan sosok yang kaya akan uang.
Dalam angan selalu terbesit bayangan bahwa suatu saat nanti, aku harus bisa membanggakan dan membuat bahagia kedua orangtuaku. Terlebih lagi, semoga tuhan selalu memberiku kesempatan mendekap kedua orangtuaku dengan menciptakan gelak tawa diantara mereka berdua.
Setiap fajar terbit di atas sana, ayah bergegas untuk berangkat kerja dengan memakai sepatu kesayangannya selama lima tahun lebih serta menggunakan kendaraan sepeda motor yang terkadang, kendaraan buntut itu mogok di tengah jalan ketika hujan turun. Ayahku masih terus melanjutkan perjalanan walaupun sepeda buntutnya tersebut mogok di tengah jalan.
Beliau berangkat kerja dari pukul 07.00 WITA sampai dengan pukul 12.00 WITA, begitu lelahnya ayahku yang memikul beban dengan sendirian. Hatiku tak kuasa melihat pengorbanan yang begitu besar yang dilakukan oleh beliau, tetapi ayahku tidak merasa sendirian ketika bekerja, karena “ Masih ada sepatu kumuh kesayangannya yang selalu bersama disaat waktu lelahnya”, ujar sang ayah.
Suatu hari, aku duduk diam dalam keadaan santai di sebuah tempat yang dimana tempat itu menjadi tempat untukku menyendiri dari suasana bising dan penuh keramaian. Bagaikan awan pekat yang menutupi mendung, disitu aku berdiam diri tanpa suara yang merundau dan seketika teringat akan perkataan ayahku “kalian harus bersekolah dengan baik, hingga menjadi orang yang baik”.
Ketika ayahku berucap dengan perkataan yang seperti itu, hatiku tersentuh dan tidak bisa memikirkan apa-apa lagi, aku hanya bisa menangis dalam diamku. Ada senang, tawa, tangis dan duka. Inilah hidup yang tak bisa ku gambarkan tapi hanya bisa ku jalankan, dan aku bisa memulai impianku ketika aku berusaha untuk menjadi seorang penulis.
 Aku harus bisa menjadi pribadi yang selalu bersyukur atas apa yang telah ku terima hingga saat ini karena ku yakin bahwa sang Maha Kuasa telah memberiku suatu hal yang terbaik bagiku, dan aku juga harus yakin atas semua impian-impian yang telah ku bangun. Aku sangat menyayangi kedua orangtua dan selalu merindukan sosok ayah dimanapun ayahku berada. Perjuangan seorang ayah akan selalu dikenang dalam kehidupan anak-anaknya. Selembar surat rindu ini kutitipkan untuk kita,dan  akan menjadi sedikit pengobat rindu pada ayah tersayang.



HARI TOGA

                                                            HARI TOGA 
 
Jam 5 pagi aku sudah benar-benar bangun. Meski sebenarnya aku semalam tidak bisa benar tidur. Aku ga tahu itu bagaimana bisa terjadi,namun yang jelas ada di otakku bahwa aku tidak mau kesiangan ataupun ketinggalan acara hari ini.Titik.

Berkali-kali aku tidur dan terbangun hanya untuk melihat jarum jam di dinding kamarku. Aku mau memastikan bahwa aku tidak kesiangan dihari ini.

Setelah benar kulihat jarum jam menunjuk angka 5, aku baru benar-benar membuka mata dan memaksa tubuhku untuk beranjak dari pelukan bantal guling dan balutan selimut hangatku. Perlahan-lahan kuraih handuk dan kupaksa kakiku untuk melangkah ke kamar mandi.

Dan sekarang, celana panjang hitam, kemeja putih bersih, dasi kupu-kupu dan sepatu kantor, semua sudah terpasang di tubuhku. Dengan sedikit merapikan rambut dan semprotan parfum kesayangan, aku siap melangkah memulai hari ini. Semua kupersiapkan sendiri.

5 menit kemudian aku sampai ditempat acara dimulai. Segera ku kenakan jubah pelengkap dan asesoris lain di tempat parkiran. Dan sekarang aku tengah berjalan menuju kumpulan manusia dengan seragam yang sama denganku.

Tengok kanan tengok kiri, tak lagi ku jumpai orang yang mengenalku. Diantara 850 orang. Demikian pula aku tak ada yang kenal dengan mereka. Tragis.

Setelah 1jam menunggu, akhirnya kami semua digiring ke sebuah ruangan besar yang memang telah dipersiapkan untuk kami. Berbaris dan akhirnya  menempati tempat duduk sesuai dengan nomor urut yang telah diberikan pada kami. Dibutuhkan waktu 1 jam lagi untuk memastikan semua peserta benar-benar siap mengikuti acara.

Meski melelahkan, namun kami harus mengikuti prosesi ini sebagai akhir dari perjalanan sebagai mahasiswa. Dan juga kebanggaan bagi orangtua kami.

Dan akhirnya prosesi pun dimulai. Begitu acara dibuka secara resmi oleh rektor, nama kami langsung dipanggil satu persatu. Mahasiswa perwakilan fakultas terlebih dipanggil dan menerima penyerahan ijasah langsung dari bapak rektor. Aku sendiri menempati urutan bangku agak belakang, jadi  lama  namaku dipanggil.

Setelah menerima ijasah dan menuruni tangga panggung acara, benar saja, orang tuaku melambai-lambaikan tangan diantara orangtua mahasiswa yang lain. Namun aku bias dengan jelas melihatnya. Aku tau mereka pasti ada rasa bangga. Aku hanya bisa melambaikan balik tanganku pada mereka. Ucapan selamat tertulis melalui sms di HP ku yang aku selipkan diantara baju Toga.

Aku pun sebenarnya merasa lega, karena lepas dari beban hidup yang selama ini terasa memberatkan bagiku. Dan bagi orangtuaku, aku yakin mereka juga bangga,sekaligus lega karena semua biaya yang dikeluarkan sudah terbayar dengan ijasah Sarjana yang kupersembahkan bagi mereka.

Dan kini, namaku bertambah panjang karena aku berhak menyandangnya. Prestise yang sebenarnya ga begitu penting. Bagaimana tidak, lihat saja  para pejabat KPK di negeri ini, mereka selalu menyembunyikan title gelar mereka setiap kali berbicara didepan public.

Yah, meski begitu, apapun itu sekarang, aku berhak akan itu dan memilikinya. Thanks GOD. Semuini berkatMu saja.h
Setelah acara bla bla bla dan bla.. akhirnya semua prosesi selesai kami jalani. Ucapan selamat bagi orang-orang didekat kami melantun dengan sendirinya. Sebuah kelegaan yang sebelumnya tidak pernah aku rasakan.  Acara terakhir kami adalah acara foto-foto bersama keluarga dan teman. Lha karena teman seangkatanku tak ada satupun disana, ya aku Cuma foto-foto ma keluarga saja. Jepret sana jepret sini sampai bosan. lalu bergegas menuju rumah menikmati makanan bersama keluargaku.

 

Kamis, 04 Oktober 2018

sekolah dan teman





CORETAN DI SEKOLAH

Dihari pertama aku dan ketiga teman-temanku, mulai menampakan diri di sebuah yayasan sekolah dasar impres, ya tepatnya di SDI Lidang letaknya pun tidak jauh dari kota,  yang pertama ku alami ialah perasan takut yang selama ini belum pernah aku rasa, dari kami berempat hanya ada seorang wanita, teman sekelasku di kampus. Dia si Densi banyak orang menyapanya si Della,  nama itu diambil sebagai singkatan atas kebaikan yang dia lakukan, Densiana Ladus ( dela), dialah wanita paling aneh, sungguh dia sangat gila, tertawa itulah aktivitas yang sering ia lakukan.
   Kita mulai dari urusan dikampus, sejak tanggal 25 agustus sampai 5 september di buka jadwal pendaftaran mahasiswa PPL bagi yang semester tujuh, ya kamilah orangnya.  Dela si ketawa terus, mendaftarkan dirinya pada tanggal 04 september tepatnya jam 11.30, dan sayapun daftar di tanggal 05 september, karena keadaan ekonomi yang kurang dari rata-rata.   Dihari dela mendaftarkan dirinya ia lupa akan sebuah  format atau data persetujuan dari sekolah, saat itu juga saya sedang berada di rumah dan mengerjakan sesuatu hal yang menyebalkan anggap saja pekerjaan kasar. Tiba- tiba nada dering ( oasis) terdengar di telinga, handphoneku memiliki panggilan dari nomor baru, ku sapa.. siapa?   Sekarang ke kampus ruangan pendaftaran ppl dan bawahlah formulir dari kepala sekolah.  Akupun langsung persiapkan diri, lalu dan pergi. Di kampus ku parkirkan motor di bawah kayu yang ingin di potong. Kemudian bergegas ke ruangan. 
“ tok-tok-tok... bunyi suara pintu yang ku ketok..
“ masuk...” suara dari dalam.
“ selamat  siang ibu...”  ku sapa
Lalu, ku serakan pada ibu dosen “ format dari sekolah”
Salah satu temanku berkata,
“ ngo nia keta hau bo?”
“ngo kawe lawo kudut pareng leso!!”
Semuanya tertawa.. termaksud ibu dan bapa dosen yang berada dalam ruangan pendaftaran.
Semua masalah selesai..kami pun bergegas pulang.
Keesokan harinya  saya bergegas segera mendaftarkan diri, sehingga menjadi mahasiswa aktif sebagai peserta PPl..
Ya, sungguh  ku sanggat sedih karena melihat seoramg ibu yang bekerja keras banting tulang demi nasib seorang anaknya,, dan berharap kelak anak akan menjadi baik.
 Dia, pahlawanku.  My super hero..
Ibuku dari balita hingga ku beranjak dewasa mampu membesarkanku hingga sekarang. Tak bisa ku balas semua kebaikannya, hanya doa dan selalu bekerja, itulah caraku membalas dan membahagiakan hati seorang ibu tercinta.
ibu engkau adalah pedoman jalanku
“pelita bagi segala usaha dalam hidupku
“sungguh ku membisu  dan ku semakin ragu
“ketika ku melihat ibu dalam kesakitan saat itu”
“aku mulai rapu dan ingin menjadi abu’
“ bila semuanya  cepat berlalu”
“untukmu ibuku”
Yoiii... gimana? Kerenkan..
Sementara itu kedua teman PPL masih belum ada kabar...
Pada tanggal 08, september 2017.. pembekan di mulai.  Selama dua hari.. kerjanya hanya bisa duduk, diam,ngantuk, lebih parahnya lagi..... banyak yang saling menembak gas alami dari dasar tubuh..  “KENTUT “   gas yang paling sederhana dan dapat merugikan tetangga sebelah..
Hari terakir pembekalan ppl  kami melakukan rutual secara KATOLIK,  mengikuti perayaan ekaristi, memohon bantuan Tuhan dalam kegiatan PPL yang akan dilaksanakan pada tanggal 11 september – 18 november.
Tepat pada tanggal 12 september kami berempat mulai masuk sekolah,, perasaan yang muncul ketika itu ialah, cemas, bimbang, takut, malu dan, yang paling para ialah  pengen sering pipis.....
Ketika hari pertama di SDI lidang, kami langsug di bagikan kedalam masing – masing mata pelajaran yang kami geluti.... dan  sejak dari balita sayapun menyukai pelajaran bahasa indonesia, oleh karena itu  saya langsung menempatkan diri sebagai guru bahasa indonesia khusus kelas lima. Di sisi lain teman seperjunaganku Della, bergelut dalam dunia alami ( pembelajaran IPA), dan si Rekos anak kebangsaan Yunani, eiiitzzz.. salah,, anak kebanggaan ibu.. menempatkan dirinya di dunia kalkulus dan berhitung yang tak pernah terpecahkan Ya... matematika.. pembelajaran yang sangat membosankan,, dan yang paling di takuti dalam dunia pendidikan,, sementara seorang kakak pertama,  serring juga saya panggil... samsung android, galaxi, ataupun yang lainnya. Ya dia si Sam Ambut,,,,,..  mengajar sebagai guru yang paling sering menggunakan metode ceramah,, yooupzzz,, IPS
Ataupun sering di sebut menggunakan bahasa manggarai “ ITA POTI SAKI”  serta dia juga memegang teguh pelajaran PPKN,,, pegennnya sih,, mau jadi parpol tapi,  heemm,, kurang adanya persetujuan dari masyarakat sekitar...
Begitulah kami saat berada di SDI Lidang,,,
Sejak hari kedua kami semua masuk di berbagai kelas dengan bermodal pelajaran yang kami inginkan,, saya masuk di kelas empat untuk memperkenalkan diri saya,,, di sana ku mulai menyapa siswa  kelas empat,, lalu ku perkenalkan diri.,
Semua murid kelas empat sangat baik,, terutama umi cs.. orangny sih agak kepo,, sering tanya melulu... dan si gateng adek saya “ yesral” ayahnya sering memanggilnya “ tele”.dia siswa yang paling bandel di kelas empat,,.sukanya menganggu teman.  Bell istirahat pun berbunyi...
Semua bergegas keluar... tak lama kemudian  bell masuk pun di bunyikan lagi.. waktunya masuk kekelas lima,,  saya di sapa dengan riuh gemuruh suara siswa kelas lima SD. ..selamat siang ku sapa, ku mulaikan perkenalan diri,, lalu meminta satu per satu mereka juga memperkenalkan diri... sungguh menjengkelkan,,, sekelas lima berjumlah 41 orang,,, uuhhhmm... kepala mulai sakit,, banyak suara yang masuk.. kebetulan disana ada juga adik dari teman saya,, rein “ si hujan” ganteng,, tapi lebaii...
Kami melakukan aktivitas kami kurang lebih selama dua bulan, di sana kami belajar bagaimana menjad manusia yang baik. Terlalu banyak kenangan bersama yang tak mampu ku lukiskan dengan kata-kata.